Sejarah
Kawasan Marunda sekarang menjadi sebuah kelurahan, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Kotamadya Jakarta Utara. Namanya diambil dari nama sungai yang mengalir di situ, yaitu Kali Marunda.
Konon nama Marunda, menurut cerita para orang tua di
Nama Cilincing diambil dari nama anak sungai yang mengalir dari selatan keutara, membelah kawasan tersebut. Cilincing mungkin lengkapnya berasal dari Ci Calincing. Kata Ci, adalah bahasa sunda , yang artinya sungai, seperti Ci Tarum, Ci Liwung, dan Ci Manuk.Cilincing adalah nama jenis pohon, sama dengan belimbing wuluh, averhrhoa Carambola L. Termasuk famili Oxalideae.
KONDISI KEHIDUPAN
Cilincing adalah kampung nelayan dan merupakan masyarakat termiskin dari keseluruhan masyarakat. karena mereka tidak memiliki akses untuk mendapatkan lingkungan yang sehat dan bersih. Orang-orang tinggal di dalam rumah yang sangat kecil yang dipisahkan oleh gang kecil. Mereka tidak memiliki halaman dan juga tidak memiliki tanah. Tanah yang mereka tempati adalah pasir pantai bercampur dengan kulit kerang. di satu sisi dikelilingi oleh laut, tempat pembuatan ikan asin dan tempat kapal rusak di sisi lainnya. Meskipun lingkungan mereka buruk, banyak anak masih tidak menggunakan sandal ketika bermain di tanah. Banyak lalat dimana-mana, bahkan di dalam rumah dan di sekitar makanan di dalam warung makan. Bau amis tercium sangat kuat khususnya apabila mereka sedang mengupas kerang, karena mereka melakukannya di sepanjang gang dan meninggalkan kulitnya di tanah. Oleh karena itu banyak masyarakat nya yang menderita berbagai macam penyakit seperti muntaber dan penyakit kulit, hal itu disebabkan karena lingkungan mereka yang kotor dan jorok. Karena tinggal di tepi laut, masyarakat Perkampung Nelayan Cilincing memiliki hubungan yang dalam dengan laut. Seluruh aktifitas ekonomi disana berhubungan dengan laut. Mulai dari nelayan, pengumpul besi bekas sampai pemulung semuanya menggantungkan hidup pada laut. Keseharian mereka juga demikian. Bahkan saking dekatnya, masyarakat disana terbiasa membuang sampah ke laut. Laut menjadi rumah kedua, sekaligus sumber penghidupan, sehinga laut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari mereka. Manakala laut tengah mengamuk, mereka tiada daya. Perkampungan nelayan ini tergolong daerah kumuh dan keras. Selain didiami oleh nelayan, banyak juga pemulung yang tinggal disini. Beberpa warga yang bukan nelayan biasanya membuka warung di pinggir jalan. Warung-warung itulah yang menjadi andalan mengutang saat para nelayan sedang tidak melaut.
POPULASI
PENDAPATAN
Mata pencaharian utama mereka adalah nelayan. Selebihnya buruh, pembantu rumah tangga dan pengupas kulit kerang. Untuk nelayan, rata-rata pendapatan mereka per hari Rp 20.000. Untuk pengupas kulit kerang dapat mencapai Rp 20.000 unutk satu keranjang besar kerang. Tetapi kadang-kadang mereka harus berbagi pekerjaan tersebut dengan 3 orang lainnya. Kadang-kadang anak-anak juga pergi melaut untuk membantu orang tua mereka mencari ikan ataupun kerang hijau.
LINGKUNGAN SOSIALNYA
Mayoritas penduduk Perkampungan Nelayan Cilincing berasal dari Jawa Barat seperti Indramayu,
Perekonomian di Perkampungan Nelayan Cilincing mengandalkan hasil laut. Delapan puluh
Interaksi sosial mereka sangat bagus, seperti kehidupan di perkampungan – perkampungan lainnya. Satu sama lain saling membantu. Apabila ada warga yang sedang kesusahan,warga lain ikut membantu seadanya walaupun keadaannya sedang sama – sama susah. Seperti ada orang sakit ataupun meninggal dunia.
KELEMAHAN SOSIAL
Kesulitan Air Bersih Yang di Alami Warga Perkampungan Nelayan Cilincing
Krisis air bersih dialami warga Kampung Nelayan Cilincing, Jakarta Utara. Selama ini warga mengantungkan kebutuhan air bersih dari air isi kemasan isi ulang. Namun karena ombak masih cukup tinggi banyak warga yang umumnya nelayan tidak berani melaut dan tidak mampu membeli air bersih.
Krisis air bersih dialami warga RT 01 hingga RT 04 RW 09 Cilincing Marunda, Jakarta Utara. Krisis air bersih ini kian dirasakan warga setelah terjadinya banjir yang merendam lingkungan pemukiman mereka.
Tidak heran datangnya bantuan air bersih dari Palang Merah Indonesia (PMI) disambut riang warga yang umumnya keluarga nelayan. Setiap warga mendapat jatah satu derigen air bersih secara cuma-cuma.
Warga mengaku sebelum ada bantuan air dari PMI, mereka menggunakan air empang dan sumur bor yang airnya asin dan hanya bisa untuk keperluan mandi dan cuci.
Untuk kebutuhan air bersih warga mengandalkan air galong isi ulang yang dijual para pedagang seharga 2 hingga 3 ribu rupiah setiap galonnya. Namun karena kondisi ombak yang masih cukup tinggi banyak warga yang belum berani melaut dan tidak bisa membeli air kemasan isi ulang tersebut. Karena itu warga berharap pemerintah tetap memasok kebutuhan air bersih warga.
Lupakan kamus bahasa ketika berbicara ”penghasilan” di perkampungan nelayan, Kelurahan Cilincing, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Kata yang dalam kamus dimaknai ’pendapatan atau perolehan uang yang diterima’ itu seolah tidak punya arti apa-apa di Cilincing. Di kampung tersebut, pendapatan bersifat semu.
Sanip (50-an) dan Carma (40), nelayan di RT 011 RW 08, yang tengah menunggui rajungan di depan rumah mereka, awalnya hanya tersenyum ketika diajak bicara soal penghasilan nelayan di zaman harga bahan bakar minyak (BBM) naik. ”Apa yang disebut penghasilan kalau malah nombok untuk membayar utang,” ujar Sanip.
Bukan rahasia lagi, dari waktu ke waktu hidup nelayan selalu bergelut dengan utang. Pada utang itulah, ”nyawa” mereka bergantung. Sebagai nelayan rajungan, Sanip dan Carma berusaha menjelaskan posisi utang dalam hidup mereka.
Nelayan rajungan adalah nelayan yang tangkapan utamanya berupa rajungan atau kepiting laut. Rajungan ditangkap dengan bubu, alat perangkap ikan dari anyaman bambu atau kawat yang dibenamkan ke dalam laut.
Untuk memasang bubu di tengah laut dan memanen hasilnya, Sanip dan
Dalam kondisi paceklik seperti sekarang, Sanip mengaku, tiga hari biasa menghasilkan 30 kilogram rajungan. Jika dikupas, daging yang tersisa sekitar 4,5 kilogram. Dengan harga daging rajungan Rp 80.000 per kilogram, perburuan rajungan tiga hari itu membuahkan ”pendapatan” Rp 360.000.
Sebelum dibagi berenam, ”pendapatan” tersebut harus dipotong Rp 279.000 karena seluruh modal itu utang dari bos pemilik kapal. Akhirnya, dari jerih payah tiga hari itu, masing-masing nelayan mendapat Rp 13.500, yang jika dikumpulkan lagi tidak cukup untuk modal melaut berikutnya.
”Begitulah di sini. Untuk melaut berikutnya, ya terpaksa utang lagi,” ujar Sanip. Pola seperti itu juga dialami ribuan nelayan di kampung itu: selalu berutang demi bertahan hidup. Mereka sadar, beban utang itu kian berat jika harga BBM benar-benar naik lagi. Ditanya soal antisipasi kenaikan harga BBM, Carma berkata, ”Bisa apa orang kecil seperti kami. Paling ya hanya pasrah menerima.”
Hal itulah yang terungkap saat dilaksanakan pengobatan gratis bagi warga nelayan Cilincing. Kondisi ekonomi yang lemah, membuat warga setempat pasrah menerima gangguan kesehatan semacam itu. Bahkan, mereka menerima hal itu sebagai keadaan normal dalam keseharian.
Mereka berharap, melalui satu kali pengobatan gratis, mereka dapat langsung sembuh. Misalnya dengan cara disuntik. Padahal, sebenarnya, penyakit gangguan pernapasan dan kulit seperti yang mereka derita, justru membutuhkan pengobatan intensif.